Friday, November 23, 2007

Little Green

Born with the moon in cancer
Choose her a name she will answer to
Call her green and the winters cannot fade her
Call her green for the children who made her
Little green, be a gypsy dancer

He went to California
Hearing that everything's warmer there
So you write him a letter and say, her eyes are blue.
He sends you a poem and shes lost to you
Little green, hes a non-conformer

Just a little green
Like the color when the spring is born
Therell be crocuses to bring to school tomorrow

Just a little green
Like the nights when the northern lights perform
Therell be icicles and birthday clothes
And sometimes therell be sorrow

Child with a child pretending
Weary of lies you are sending home
So you sign all the papers in the family name
You're sad and you're sorry, but youre not ashamed
Little green, have a happy ending

Just a little green
Like the color when the spring is born
Therell be crocuses to bring to school tomorrow

Just a little green
Like the nights when the northern lights perform
Therell be icicles and birthday clothes
And sometimes therell be sorrow


[Joni Mitchell, 1971]

1 comments:

Agung Wardana said...

Kenyataan Menampar

Tubuh ini memang rapuh,
Dan aku pun mengakui
Jika aku tidak masuk konstruksi rupawan
Serta jauh dari bayanganmu

Tapi,
Mengapa harus bermain rasa
Walau belum bertemu sekalipun
Dan ketika perjumpaan itu datang,
Melebur semua tanpa harapan

Saat ini ku tangisi semua
Aku tidak munafik, aku benar-benar menangis
Setelah sekian lama kuanggap diri teguh
Akhirnya air mata itu menitik kembali

Aku telah membunuh bayi kecil kita
Yang sekarang sedang ku ratapi
Kan kutinggalkan dalam kehampaaan ini
Membekukan semua tanpa rasa

Perkenalan yang hangat
Mengapa harus berakhir dengan kedinginan?
Harapan yang indah
Mengapa menjadi asa kegelapan?

Kutangisi setiap kata yang terungkap
Kuratapi dirimu dalam pertemuan imajiner
Jika engkau memang muak dengan semua ini
Aku bisa pahami karena aku bukan pangeran dalam mimpimu
Aku hanya pemuda biasa, hidup biasa
Sedangkan harapan titik terang yang melangit
Seperti yang terungkap bahwa aku telah siap untuk kecewa
Ya, aku siap untuk kecewa dan kecewaan itu yang sedang kurasakan saat ini

Lagu itu.....
Sayup masih kudengar mengiringi air mata
Menemani langkah ku yang gontai melintasi labirin
Mengisi relung hari ku yang hancur
Memenuhi kehampaan di kepala

Foto mu...
Kutancapkan mata tak berkedip
Kuurai anatomi konflik jiwa ini
Menundukkan kepala dan rambut yang menutup wajahku
Sembari sesekali kuusap air mata

Hidup ini tidak adil pada ku
Aku jenuh dengan rasa tak terbalaskan ini
Apakah ini sebuah karma?
Dari perbuatan ku yang selama ini menutup diri
Membekukan hati ku dari perempuan manapun
Hingga mereka pun kecewa seperti yang kurasakan saat ini
Tapi, bukankah aku tidak pernah membuka harapan
Tidak juga pernah menjanjikan apa-apa atas rasa
Penolakan atas rasa juga kulakukan dengan jujur
Tapi mengapa karma itu datang tidak seimbang?

Setelah aku menjadi gila, tergila-gila pada mu
Kini kau coba untuk sadarkan aku
Kalo aku tidak sedang menapakkan kaki di bumi
Aku pun jatuh dan bertambah gila akan kegilaanku

Alam semesta, ceritakanlah pada anakmu
Misteri apa lagi yang sedang engkau siapkan?
Tidak cukup kuatkah keterpautan rasa kami?
Hingga tidak ada ruang lagi bagiku untuk meminta maaf sekalipun
Hingga tidak ada waktu lagi untukku mengatakan terima kasih
Hingga tidak ada kondisi lagi menyampaikan selamat jalan

Ibu, bukankah lebih baik aku pulang?
Meninggalkan catatan rasa ini
Meleburkan diri dari dunia material ini
Jemputlah aku karena aku telah siap........

~Ancak 2007~